SORA SIRULO | EDISI XLIII |JULI-AGUSTUS 2011 TELAH TERBIT

Sora Sirulo Edisi XLIII untuk  Juli – Agustus 2011 telah terbit, antara lain memuat berita

Pertandang Kahe-Kolu di Hotel Danau Toba. hal. 4
Penampilan Sirulo menjadi tanda kebangkitan seni pertunjukan tradisional Karo karena mampu menampilkan beberapa kekuatan seniKaro yang tersimpan selama ini seperti gendang kettengketteng dan kulcapi, busana abit dates serta sendi-sendiritual tradisional.

Kilas Balik Karo Meriahkan Kerja Tahun Dalan Naman. hal. 3
Seorang seniman Karo dariTaneh Langkat, Merihta Tarigan SPd, menciptakan karya seni kolosal yang diramu dalam bentuk sendratari bedurasi 15 menit, mengisahkan kehidupan sehari-hari suku Karo zaman dahulu.

Durin Tonggal Terus Bergejolak. hal. 10
Ratusan orang dari Kelompok Tani Arih Ersada Aron Bolon, Desa Durin Tonggal (Kec. Pancurbatu, Deliserdang) unjukrasa di Gedung DPRD Sumut [5/5] meminta agar mafia hukum dan mafia tanah yang merampas masyarakat segera ditangkap.

Sanggar Sirulo Menakjubkan Medan dan Limang
MEGITA. MEDAN. Berawal dari latihan bermain berbagai alat musik tradisional Karo seperti ketteng-ketteng, mangkuk, belobat, surdam dan kulcapi serta latihan menyanyi dan menari dengan gaya lama hingga tampil saat pesta tahunan di beberapa desa Karo dan konser sendiri di Kesain Neumann, Medan. Selesai tour 4 kota (Medan, Berastagi, Siantar, Binjai) mengikuti Enda Kustik VG dan beberapa group band lainnya, Sirulo kembali mengadakan konser sendiri di Kesain Neumann akhir tahun lalu yang menghasilkan
album VCD live berjudul Peratah-ratahi Bulung Sienggo Melus (produksi BS Record).

Baru-baru ini, Sirulo melakukan pementasan yang menandakannya telah memenuhi permintaan untuk disukai tua-muda dari berbagai kalangan. 29 Mei 2011, Sirulo menampilkan drama tari topeng Gundala-gundala dan drama tari Pertandang Kahe-Kolu di ceremonial hall Hotel Danau Toba International (HDTI), Medan, dalam acara Njujungi Beras Piher kepada keluarga Kapoldasu dan keluarga Ketua DPRDSU, dihadiri Plt. Gubsu, Bupati Karo, Bupati Langkat dan banyak tokoh-tokoh Karo. Kedua penampilan diiringi live music tradisional dilengkapi busana sangat tradisional (abit dates). 29 Juni 2011, atas permintaan Infokom Pemprovsu, Sirulo tampil di penutupan pesta tahunan Desa Limang (Kec. Tigabinanga). Di sini, Sirulo menampilkan berbagai lagu diiringi musik tradisional, tari-tarian,permainan rakyat, melukis secara live di atas pentas, puisi dan dialog (lawak). Semuanya dirangkai dalam drama musikal berjudul Pumahi. Kedua penampilan ini mendapat sambutan luar biasa dari para penontonnya.
“Penampilan Sirulo di HDTI mengigatkan betapa bergengsinya seni Karo meski menampilkan musik, tari, vokal dan busana yang sangat sederhana,” kata beberapa penonton yang sempat diwawancarai Sora Sirulo. Protokol secara spontan mengucapkan hal senada dengan mengatakan: “Terimakasih kepada Sanggar Seni Sirulo yang telah menampilkan pertunjukan luar biasa yang sudah lama tak pernah kita lihat lagi.”
Sama halnya dengan sambutan Kepala Desa Limang usai penampilan Sirulo di acara penutupan pesta tahunan desa itu dengan mata berkaca-kaca:
“Kalau tadinya kami tahu penampilan Sirulo seperti ini, kami akan menempatkannya di hari pertama.
Tak terbayangkan sebelumnya. Tak pernah kami menyaksikan pertunjukan tradisional Karo yang begitu mengesankan.” Tua muda dari berbagai kalangan yang memadati Jambur Desa Limang merasa takjub atas penampilan Sirulo.
Lebih mengejutkan penonton ketika pembawa acara, baik di HDTI maupun Limang, mengatakan pertunjukan itu disutradarai dari Leiden
(Nederland) lewat webcam oleh sutradara dan koreografer Juara R. Ginting. Beberapa warga Desa Limang menyampaikan apresiasi tentang pertunjukan Sanggar Seni Sirulo. “Metedeh ateta sora ketteng-ketteng e ras kulcapi, entabeh ngendekkensa,” ungkap beberapa ibu-ibu yang sudah tua.

Sementara itu Kabid ´Pos dan Telekomunikasi Kominfo´ Sumut Gelora Viva Sinulingga SE MM yang mewakili Kadis Kominfo Sumut mengatakan, kedatangan Sanggar Seni Sirulo yang disponsori oleh Kominfo Sumut ini bertujuan memeriahkan pesta rakyat di Desa Limang.
“Harapan kami, apa yang ditampilkan di sini dapat membuat masyarakat terhibur,” demikian Sinulingga (Selengkapnya silahkan lihat di SORA SIRULO | EDISI XLIII  |JULI-AGUSTUS 2011 Pengganti Ongkos Cetak Rp. 3000., di luar sumut tambah ongkos kirim)    sumber: Redaksi SoraSirulo <sorasirulo_redaksi@yahoo.com>

 

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo, Momo Man Banta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *