SOLAR DARI SERGAI DIJUAL KE BATUBARA

GAMBUSLAUT (Waspada) : Kelangkaan BBM khususnya jenis solar di kawasan Serdang Bedagai mulai terkuak. Ketua SNSU Batubara Rizal, Selasa (12/7) mengatakan, nelayan di wilayahnya masih beruntung bisa melaut walau harga solar Rp6.000. Itupun solar berasal dari Serdang Bedagai.

Menurut Kairul Z, 40, nelayan Gambuslaut, Limapuluh, Selasa (12/7) di jalan lintas, di desanya banyak penggalas mengangkut solar diduga berasal dari Sergai melalui jalan Bandar Khalipah-Pagurawan-Kuala Tanjung-Perupuk-Tanjungtiram.

“Penggalas mencari harga lebih mahal,di Tanjungtiram Batubara bisa laku dipasarkan Rp6.000-Rp.7.000 per liter. Karena nelayan setempat kesu litan mendapatkan solar di SPBU, SPDN dan APMS. Nelayan tak mampu bersaing dengan spekulan,” ujar Khairul. Hampir setiap hari puluhan penggalas sepeda motor hilir mudik mengangkut solar dalam jumlah 6 jerigen.

Sebelumnya, BBM jenis solar kian langka hingga memperparah kondisi nelayan di Serdang Bedagai khususnya Kec.Tanjung Beringin dan Sei Rampah. Akibat kelangkaan solar, nelayan harus mengeluarkan biaya Rp5.000-Rp6.000 per liter dibeli dari pengecer.

Bahkan Stasiun Solar Paket Dealer Nelayan (SPDN) di Dusun I Dungun, Desa Tebingtinggi melayani kebutuhan solar nelayan Tanjung Beringin sejak 1 hingga 11 Juli belum mendapat pasokan dari Pertamina.

“Pasokan solar dari Pertamina ke SPDN Tebingtinggi yang setiap bulan 72.000 liter biasanya dipasok setiap minggunya 18.000 liter belum masuk, akibatnya nelayan kesulitan untuk melaut,” jelas Udin, 41, petugas SPDN Tebingtinggi, Senin (11/7).

Ketua KUD Mina Karya Tanjung Beringin selaku pengelola SPDN Tanjung Beringin Muslim Hasan mengatakan, KUD sejak 4 bulan lalu telah mengusulkan permohonan penambahan kuota SPDN Tebingtinggi dari 72.000 liter menjadi 150.000 liter ke Pertamina Medan, namun hingga saat ini belum direalisasikan Pertamina.

Kepala Desa Bagan Kuala, Kec. Tanjung Beringin Syahroni mengungkapkan, untuk Desa Bagan Kula saja ada sekitar 50 sampan nelayan membutuhkan solar sekitar 1.500 liter per hari dan 10.500 liter setiap minggu yang minimalnya harus ada sekitar 7.500 liter setiap minggunya yang selama ini dipasok 7 pengecer.

Hal senada juga diutarakan Derita Effendi, nelayan kerang Dusun I Desa Sei Rejo, Kec. Sei Rampah yang sejak kelangkaan solar mengandalkan dari SPBU di Kec.Sei Rampah dan Sei Bamban yang masih sering kehabisan stok, sehingga sekitar 100 nelayan kerang Dusun I dan II Desa Sei Rejo tidak bisa rutin berangkat melaut.

Ketua HNSI Sergai Saparuddinpa mengatakan, HNSI akan lebih dahulu menelusuri permasalahan di tingkat SPDN khususnya di Tanjung Beringin, setelah itu baru berupaya mencarikan solusinya. (a12/c03)
sumber: http://waspadamedan.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *