PRAKTISI: FAKTOR HARGA PEMICU MANDEGNYA PETERNAK SAPI LOKAL

MedanBisnis – Medan. Praktisi peternakan dari Jakarta yang juga menjabat Direktur CV Makmur Pusaka Wahyu Darsono, mengungkapkan, faktor harga merupakan pemicu utama mandegnya peternak sapi lokal saat ini. Sebab, katanya, rendahnya kualitas individu ternak yang dihasilkan membuat pasokan daging dari produksi sapi lokal sangat terbatas hingga tidak bisa memenuhi kuota kebutuhan daging sapi untuk daerah di Indonesia, termasuk Sumut.
“Faktor harga memang sangat menentukan dalam produksi sapi. Itu secara tidak langsung akan bisa membantu pengembangan pembibitan sapi oleh peternak. Jadi jika harganya murah di pasaran, tentu akan membuat peternak lesu hingga berdampak pada pembibitan sapi. Karena biaya yang dibutuhkan oleh peternak tidak bisa lagi ditutupi,” ujar Wahyu, kepada MedanBisnis, Rabu (13/7), di sela-sela acara Fokus Group Discussion (FGD) yang mengambil tema “Pemasaran Ternak Sapi di Sumatera Utara”, di Gedung BI Medan.

Tidak terkendalinya impor sapi juga menjadi penyebab tidak bergairahnya peternak sapi lokal hingga mengakibatkan kran impor terus dibuka untuk memenuhi kebutuhan daging sapi untuk masyarakat maupun pelaku usaha restoran dan hotel.

“Secara berkala, Indonesia mengimpor 90% sapi jantan dan hanya 10% betina sebagai bibit. Ini membuktikan kalau impor memang dilakukan untuk memenuhi konsumsi daging sapi, bukan untuk pengembangan,” ungkapnya. Karena itu, pemerintah harus menerapkan peraturan yang baku soal larangan impor sapi dengan persentase yang besar.

Untuk daerah Jawa, terang Wahyu, pemerintah daerahnya sudah mulai menerapkan ketentuan di mana peternak lokal harus memelihara 50% sapi lokal. “Jadi kran impor untuk daging akan otomatis berkurang. Karena dengan penggemukan yang banyak diterapkan peternak di berbagai daerah pun belum bisa untuk menutup mata rantai permasalahan mandegnya peternak lokal saat ini,” ungkapnya.

Menurut Wahyu, dengan melakukan pembiakan atau pembibitan ternak sapi betina produktif yang berasal dari sapi lokal, ditambah pemasaran yang diarahkan untuk tujuan pasar, akan bisa untuk meminimalisir kerugian peternak. “Ternak yang dihasilkan juga akan gemuk dan sehat, dan otomatis akan mampu untuk meningkatkan harga di pasaran. Bahkan tidak tertutup kemungkinan akan bisa melampaui harga daging sapi impor,” ujar Wahyu.

Namun menurutnya, pengembangan sapi ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dikatakannya, selama ini, masyarakat maupun peternak atau penjual daging sapi sudah sangat terbiasa dengan produk impor. “Faktor kebiasaan juga sulit untuk dirubah. Karena itu pemerintah dalam hal ini Dinas Peternakan (Disnak) harus membantu untuk memasarkan hasil produksi peternak lokal sehingga mudah diterima pasar,” sebutnya.

Faktor lingkungan seperti pola pemasaran, tata niaga pemasaran hingga pola ternak usaha memang harus dipahami oleh Disnak sehingga akan bisa menjadi fasilitator untuk para peternak maupun investor yang mau menanamkan modalnya untuk usaha ternak di Sumut. “Itu akan mampu untuk mengembangkan ternak sapi di Indonesia termasuk Sumut. Karena bisnis ini masih sangat potensial dan bisa menyerap banyak tenaga kerja,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat ini, rantai pemasaran sapi potong di Indonesia untuk blantik 28,50%, pedagang pengumpul 17,10%, jagal 29,65% dan pedagang daging 24,75%. (elvidaris simamora)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *