PETERNAK MENGELUH HARGA PAKAN MAHAL

MedanBisnis – Medan. Harga jagung pipilan di Medan bertahan mahal sejak mengalami kenaikan awal Juni lalu. Naiknya harga jagung tersebut menurut beberapa pedagang dipicu oleh semakin berkurangnya pasokan yang disebabkan oleh produksi jagung Sumatera Utara (Sumut) agak menurun tahun ini.
Pantauan MedanBisnis di sejumah pasar tradisional di Medan, saat ini harga jagung pipilan mencapai Rp 200.000 hingga Rp 220.000 per karung ukuran 50 kg, naik dari harga sebelumnya Rp 180.000 per karung.

“Pasokan yang masuk terus berkurang, makanya harganya bertahan mahal sampai sekarang,” kata Erna, salah satu pedagang di Pusat Pasar Medan, Jumat (15/7).

Biasanya, dia memasok hingga 800 kg jagung dalam seminggu, kini pasokan yang dia dapat kira-kira turun 30% dari jumlah biasanya. Jagung-jagung itu biasanya dia pasok dari Kabupaten Tanah Karo, Langkat dan Deliserdang. “Ada juga jagung impor asal India, tapi masih sedikit,”ungkapnya.

Dengan keadaan yang demikian, terpaksa dia menaikkan harga karena permintaan dari peternak dan rumah tangga masih tinggi. Harga jagung tersebut jika dijual eceran, berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 5.500 per kg, naik dari harga semula Rp 4.500 hingga Rp 4.800 per kg.

Sementara itu, Kepala Seksi Data dan Perumusan Program Dinas Pertanian Sumatera Utara, Lusyantini mengatakan, berdasarkan angka ramalan (aram) II 2011 memang produksi jagung Sumut agak menurun jika dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dia menyebutkan, pada tahun 2009 produksi jagung Sumut mencapai 1.166.543 ton, kemudian angka itu naik menjadi 1.377.718 ton pada 2010. “Namun, berdasarkan aram II 2011, tingkat produksi agak menurun menjadi 1.353.878 ton,” kata Lusi.

Turunnya produksi jagung itu, menurutnya, disebabkan karena anomali cuaca yang terjadi sepanjang tahun ini, sehingga ada sebagian petani yang gagal panen atau menanam komoditas lain yang adaptif dengan kondisi iklim yang tidak menentu itu.

Selain itu, penurunan itu juga disebabkan oleh penurunan luas panen jagung. Pada 2009 luas panen mencapai 247.782 hektare, pada 2010 naik menjadi 274.822 hektare, kemudian turun lagi pada 2011 menjadi 265.289 hektare. Hal itu terjadi lantaran banyak petani yang memilih menanam komoditas lain yang lebih tahan terhadap anomali cuaca yang terjadi belakangan ini.

Secara terpisah, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Serdang Bedagai, Fadlan Hasibuan mengatakan, tingginya harga jagung di pasaran menyebabkan harga pakan ternak terus bertahan mahal.

Menurutnya, saat ini harga pakan ternak telah mencapai titik Rp6.000 per kg. Sedangkan rata-rata peternak di sana membutuhkan lebih dari 100 kg pakan ternak setiap harinya. “Kami sangat kewalahan mengelola peternakan karena harga pakan ternak tidak ada tanda-tanda akan mengalami penurunan harga,” keluhnya.

Parahnya, katanya lagi, tingginya biaya produksi karena tingginya biaya pakan, tidak diiringi dengan kenaikan harga ternak di pasaran. “Siapa bilang harga ternak tinggi, kalau dibanding dengan biaya operasional peternakan yang demikian tinggi, harga ternak sekarang masih rendah,” ujarnya. (cw – 01)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

3 Responses to PETERNAK MENGELUH HARGA PAKAN MAHAL

  1. Naturally I like this content completely, hope you could post far more on this subject.

  2. site says:

    When are you going to post again? You really inform me!

  3. I recently came across your article and have already been reading through along. I wish to convey my appreciation of your writing skill as well as ability to make visitors study right from the start towards the end. I must read more recent articles and also to reveal my personal ideas along with you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *