PEMBIBITAN TANAMAN DIMULAI DENGAN KESABARAN


MedanBisnis – Medan.Melakukan pembibitan tanaman dalam mengembangkan sektor pertanian di Sumut bukan hanya harus dipelajari sejak dini, tapi juga harus dilakukan dengan penuh kesabaran, karena tanaman juga sama layaknya manusia yang membutuhkan perawatan khusus.
Pemilik Penangkar Bibit Gelombang Senja Tanjung Morawa, Rusdi mengatakan, perkembangan tanaman pertanian, perkebunan dan kehutanan sangat dibutuhkan baik melalui proses perkawinan silang dan lainnya. Sebab, sektor tersebut masih dapat menguntungkan bagi yang mengembangkannya meski dituntut penuh kesabaran karena memiliki kendala dan risiko yang berat.

“Pengembangan bibit tanaman ini penuh dengan keseriusan dan kesabaran, karena beban dan kendala pasti ada seperti tanaman mati karena perlakuan yang salah,” ujarnya kepada MedanBisnis di sela-sela pemberian arahan kepada siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Desa Tanjung Baru Kecamatan Tanjung Morawa, Rabu (13/7).

Menurutnya, pembibitan tanaman perlu dimulai dari hobi dan kecintaan terhadap tanaman yang juga termasuk makhluk hidup. Untuk itu, sistem belajar diterapkan kepada siswa PKL yang berasal dari SMK negeri 4 Mandaling Natal dan SMK 1 Peureulak, Aceh Timur sebanyak 15 orang ini dimulai dari cara penyemaian, perkawinan silang, mengenten dan okulasi.

“Kita mau menerima anak-anak PKL ini karena ingin memberi ilmu yang dimiliki dalam pengembangan pembibitan tanaman khususnya komoditas hortikultura,” katanya.

Pembelajaran yang khusus diberikannya, tambah Rusdi yakni memperbanyak tanaman dengan cara mengenten atau kawin pucuk. Dimana proses perkawinan tersebut lebih singkat dibandingkan sistem perkawinan lainnya seperti okulasi.

Dicontohkannya untuk jenis tanaman durian yang diperbanyak dengan mengenten dapat dilakukan perkawinan silang pada usia satu bulan saja setelah proses penyemaian di dalam polybag, sedangkan kalau dilakukan okulasi, tanaman harus usia di atas 6 bulan.

“Kita ajarkan kepada siswa untuk melakukan proses percepatan perbanyakan bibit tanaman. Karena dengan waktu yang singkat tidak memerlukan modal yang besar dan lebih menguntungkan. Memang tanaman tidak bisa dipaksa, tapi bagaimana caranya kita bisa mempersingkat usia tanaman untuk berproduksi,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Pemilik Penangkar Bibit Teratai Indah di Tanjung Morawa, Syamsul Bahri. Dengan menularkan ilmu yang dimiliki kepada generasi muda khususnya yang sedang PKL akan meningkatkan kualitas sektor pertanian di Sumut khususnya bagi daerah asal siswa tersebut.

“Saya sudah 8 kali menerima siswa PKL di sini. Ada kesenangan tersendiri menghadapi anak-anak karena selain menambah nilai ibadah juga dapat mendidik diri untuk lebih sabar selama memberi ilmu yang dimiliki,” katanya.

Proses perbanyakan bibit yang diberikan, tambahnya, masih sekitar pembersihan lahan, pembuatan rumah sungkup, mengenten dan okulasi pada jenis tanaman buah. PKL yang dilakukan selama satu bulan ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang tanaman kepada generasi muda.

“Kemarin kita telah belajar menstek tanaman jeruk nipis, menyambung alpukat dan lainnya. Dengan begini kita harap anak-anak bisa ikut nantinya mengembangkan pertanian di daerahnya sendiri,” tuturnya.

Diakui Syamsul, penerimaan siswa PKL di tempat penangkar bibit di Sumut ini merupakan kerjasama antara Asosiasi Penangkar Tanaman (Aspenta) Sumut dengan Sekolah Kejuruan Pertanian di Kabupaten Mandailing Natal dan Peureulak, Aceh Timur dan sekitarnya.
(yuni naibaho)
sumber: http://www.medanbisnisdaily.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Teknologi Tepat Guna, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *