PAWANG TERNALEM BAGIAN 7 (PENUTUP)

Maka berangkatlah Pawang Ternalem dengan dua orang pengantar bersama beberapa orang anak beru ke rumah Pengulu Jenggi Kumawar untuk menjemputnya. Peristiwa ini didalam urut-urutan adat disebut baba nangkih. Maka dengan berpura-pura tidak tahu Pengulu Jenggi Kumawar dengan istrinya pergi ke rumah saudaranya di kempung seberang sungai, dan ditinggalkannya di rumah panggung saudara perempuannya, untuk mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa Bru Patimar bersama dengan Pawang Ternalem. Rombongan itu hanya sebelas orang, dan subuh mereka berangkat dari Jenggi Kumawar, dan ketika maghrib baru tiba di desa Lau Simbelin, kampung kakek Pawang. Disana sudah menunggu sanak saudara Pawang Ternalem, termasuk ibunda si Ndaram saudara ibunda Pawang Ternalem. Upacara penyambutan dilaksanakan secara sederhana, yang diakhiri dengan makan malam, (tata upacara ini akan dibuat posting tersendiri).
Pada saat makan malam ini, Pawang dengan Bru Patimar di suruh duduk berdua didalam kamar, dan disuguhi masakan ayam yang telah diolah sedemikian rupa, lengkap dengan nasinya, dalam satu piring. Pertama, keduanya disuruh saling menyuap dengan sejemput nasi, secara bersamaan. Kemudian diawasi oleh bibi Pawang, mereka disuruh makan sekenyang-kenyangnya. Beberapa nasihat yang diucapkan bibi itu antara lain, jangan gigit tulang ayamnya, jangan makan sayapnya, supaya kamu jangan suka kluyuran, jangan makan cekernya, supaya rejekimu jangan seperti rejeki ayam, mengais dulu baru makan. Yang paling dianjurkan kepada Bru Patimar adalah makan telur rebusnya yang memang diletakkan ditengah-tengah maskan itu. Supaya menjadi ibu yang baik, seperti induk seekor ayam, biar anaknya berbulu putih, berbulu hitam, lurik lurik atau bintik bintik, semua dinaunginya dibawah sayapnya. Pawang disuruh makan paha ayam, biar kuat bekerja, kuat menopang harga diri dan martabat keluarga. Kalau hatinya, juga jangan, supaya tidak perate-ate (manja dan mau menang sendiri), tapi hati ayamnya berikan saja kepada bibik-bibik itu. Mereka senang karena daging hati ayam lunak, dan memang itu yang enak bagi orang yang sudah ompong he..he..he..
Selesai makan, mereka disuruh istirahat didalam kamar, dan bibi-bibi itu bergegas mengeluarkan piring, mangkok tempat cuci piring dan gelas minuman. Tapi kemudian disorongkan kedalam minuman berupa tuak dalam bumbung bambu. Trus kamar itu dikunci dari luar. Mereka berdua berpandang-pandangan. Ada celah dinding papan itu untuk mengintip, dan nampak keluarga Pawang Ternalem sedang bercakap-cakap kesana kemari tidak tentu topik. Adang-kadang saling berdebat, bercanda ejek mengejek, dan tertawa bersama-sama. Pawang masih mengenang pesan gurunya, jangan terlalu hanyut dengan perasaan. Kamu harus mampu menahan diri. Sementara saudara sepupunya, sehari sebelum mereka berangkat ke Jenggi Kumawar, ketika mandi di pancuran mengatakn, begitu sampai nanti di rumah, kamu harus mengambil kegadisannya, supaya tidak ada lagi ikat-ikat bathin dengan laki-laki manapun, entah itu yang mencintai apalagi yang dicintai Bru Patimar selain kamu. Diliriknya Bru Patimar yang sedang bersujud dihadapannya, merenung manatap jalinan tikar pandan. Lalu diangkatnya wajahnya menatap Pawang dan tersenyum.
“Nggak diminum air niranya bang?” tanya Bru Patimar.
“Sebentar lagi, perutku masih kenyang.” Jawab Pawang sambil tersenyum. Ditopangkannya tangannya ke dagu, dan ditatapnya mata Bru Patimar dalam-dalam. Pawang masih tersenyum, dan diusapnya keringat di dahi pengantinnya.
Gadis itu tertunduk, kemudian menatap Pawang lagi. Kemudian dia mengangguk. Nampaknya anggukan itu tidak untuk Pawang Ternalem tapi untuk dirinya sendiri. Dia percaya, bahwa kembang yang selama ini dijaganya dengan sebaik-baik kemampuannya, yang sudah dalam dua tahun ini diyakininya untuk dipersembahkan kepada kekasihnya Pawang Ternalem. Ya, memang sekaranglah waktunya.
Maka ditengah senda gurau sanak keluarga diluar, mereka memadukan kemurnian jiwa, bagai lagu seruling yang mengalun lembut dari lembah. Pawang menapak dari kaki bukit, mendaki lereng sampai kelembah yang lembab dan berembun, dan dalam pendakian yang samakin menguras tenaganya langkah-demi langkah terayun sambil merayap di sela bukit kemuning yang berubah rona merah memayang dengan geraian rambut diubun-ubun berayun ayun bagai selendang berkibar disaput fajar. Rona pelangi memancar dari bola matanya, beralun tarian naga bersahut-sahutan bagai alu bertalu-talu menumbuk lesung, dan pias-pias padi terpancar dari bibir lesung tersentuh. Riak-riak yang semula memercik riang, berubah jadi ombak mengelombang timpa menimpa dalam badai yang semakin dahsyat. Jiwa mereka luluh lebur jadi satu dalam keheningan dan kesenyapan.
“Engkau belum membayar utang adat kepada ayah bundaku dan sanak kadang orang beradat, ingat itu dan serahkan bukti persembahanku itu kepada keluargamu, supaya tahulah mereka melunaskan hutangnya.” Kata Bru Patimar kepada Pawang. Pawang mengangguk dan mencium kening istrinya. Lalu diketuknya pintu kamar yang terkunci dari luar itu, sedikit terbuka, disorongkannya genggaman kain tenun putih itu, disambut sang bibi dari luar, dan pintu kamar terkunci kembali. Besok pagi kain itu dengan uang emas atau perak akan diantar ke rumah Pengulu Jenggi Kumawar, bahwa pernikahan telah dilaksanakan dengan selamat, dan utang adat akan dibayar setelah selesai musim panen.
Istrinya menatap wajah yang terpejam itu. Dalam hati dia berkata, apapun kelak yang terjadi, aku akan mengikutimu, kemanapun, dalam keadaan apapun, sampai maut memisahkan kita. Sementara Pawang berbisik dalam hatinya, Bunda, aku sama sekali tidak mengenal engkau, karena pertemuan kita hanya selama empat hari, maka kini aku telah menemukan gantimu, restuilah kami dari tempat peristirahatanmu, biarlah keluarga kami kelak menjadi keluarga sebagaimana pernah ada dalam cita-citamu. Dan ketika dia membuka matanya, dilihatnya wajah Bru Patimar bersinar bagai rembulan.
Keesokan harinya, ketika cahaya matahari menembus lubang dancelah dinding kamar, Pawang Ternalem terjaga dan terbangun. Tapi Bru Patimar sudah tidak ada disisinya. Dan ketika dia keluar dari kamar, dilihatnya istrinya sudah pulang dari pancuran, dan tengah menyisir rambutnya yang panjang. Pawang tersenyum dan bergumam dalam hati, dia telah ada disebelah diriku. Lalu diapun bergegas ke pancuran mandi dan mengikrarkan janji hati, untuk berjuang bagi sebuah keluarga bahagia. SELESAI              sumber : 1-7 sonyssk.wordpress.com

This entry was posted in Cerita (Turi - Turin). Bookmark the permalink.

1 Response to PAWANG TERNALEM BAGIAN 7 (PENUTUP)

  1. silvia says:

    kisah yg sungguh indah tentang perjalanan anak manusia dalam menjalani hidup, tak menyerah dan berputus asa, berpikiran positif dan dewasa.
    Sungguh memberikan inspirasi bagi saya sebagai orang Karo semakin cinta akan budaya sendiri… 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *