2014, SAPI IMPOR MASUK INDONESIA HANYA 10 PERSEN

Pemerintah Indonesia ber­niat menyetop permintaan sapi impor, karena berda­sarkan hasil sensus sementa­ra jumlah sapi lokal saat ini 14,4 juta ekor dari prediksi target populasi ha­nya 14,2 juta ekor. Angka itu sangat cukup untuk mencapai swasembada.

Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Direktorat Jen­deral Peternakan dan Kese­hatan He­wan Departemen Pe­ternakan  Re­publik Indonesia, Dr Riwan­toro MM kepada wartawan saat acara  pembahasan pemasaran ter­nak sapi Sumut di Gedung Bank Indonesia, Rabu (13/7).

“Sebenarnya impor sapi mau hapuskan, namun ada beberapa pertimbangan seperti swalayan masih membutuhkan daging sapi khusus (impor),” jelasnya.

Berdasarkan hasil sensus sementara, sebanyak 14,4 ju­ta ekor sapi tersebar di se­luruh Indonesia, dari prediksi target populasi ha­nya 14,2 juta ekor. “Sehingga di targetkan pada 2014 maksimal hanya 10 persen sapi impor masuk ke Indonesia.

Dikatakannya, mengapa sam­pai saat ini Indonesia masih bergantung sapi impor, karena tidak pernah dila­kukan sensus sehingga angka yang dihitung hanya prediksi. Efeknya tidak dapat meya­kin­kan stake holder jumlah sapi lokal.

Ditegaskannya, angka sensus sementara saat ini sangat falid karena dilakukan oleh lembaga yang dilindungi un­dang-undang secara by name by adress dan door to door.

Lalu bila bicara sapi lokal, diakui Riwantoro, maka sapi dari Balilah masuk yang paling terbaik di dunia. Keung­gu­lannya cara beradaptasi, dimana bisa hidup meski tak diurusi maka bisa tetap hidup dan mampu beranak. Lainnya bila tidak diberi makan dengan kandungan konsetrat maka akan mati.

Ditambahkannya, saat ini persediaan daging sapi sangat aman. Hingga posisi Juli 2011 sebanyak 36.500 ton dan sapi yang akan di potong pada Agus­tus sebanyak 52.640 ekor atau se­tara daging 13.754 ton. Ren­cananya akan kembali surplus un­tuk persediaan Sep­tember se­banyak 36.689 ton.

Dipaparkannya, teknik yang dilakukan untuk mengendalikan impor saat ini dengan menerima impor sapi jantan hanya 90 persen, sisanya 10 persen sapi betina sebagai bibit, lalu minimal memelihara 50 persen sapi lokal dari jumlah sa­pi yang di impor, kemudian ha­sil penggemukan impor ha­rus di pasarkan di luar Su­ma­tera Utara.

Selain itu, melakukan ke­mit­raan dengan masyarakat se­kitar dalam penyediaan pakan ternak dan atau dalam bentuk kemitraan lainnya serta melakukan penggemukan minimal selama 60 hari.  Hadir sebagai pembi­cara, Dosen sekaligus Peneliti IPB, Prof Dr Ir Nachrowi MM dan Direktur/Pemilik CV Makmur Pusaka, Ir Wahyu Darsono MM.
sumber: http://medan.jurnas.com

This entry was posted in Berita, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *