MENGINTIP PELUANG USAHA BARBIE SHOP DI TENGAH MAHALNYA MAINAN ANAK

Manfaatkan Limbah Bahan Sandal

Seiring perkembangan teknologi, permainan anak semakin mahal. Tak sedikit orangtua yang kesulitan memenuhi keinginan sang anak untuk memiliki permainan.
Terlebih di tengah tuntutan kebutuhan yang belakangan ini tak kalah semakin berat.

indra juli, Medan

Kondisi itu memaksa Zulfikar SH (35), untuk memutar otak untuk membuat mainann
anak yang terjangkau bagi para orangtua. Pengetahuan mengolah limbah produksi sandal yang didapat selama di Pulau Jawa diaplikasikan untuk membuat mainan anak berupa rumah Barbie, tempat tidur Barbie, sofa Barbie, mobil-mobilan dan lainnya.

Beraneka karya yang dipajangnya selama Pameran UMKM Provinsi Sumatera Utara di PRSU Tapian Daya, Jalan Gatot Subroto Medan mulai 5 hingga 11 Juli lalu pun mendapat antusias yang besar dari masyarakat. Pantauan wartawan Sumut Pos di arena pameran tersebut, permainan anak yang ditawarkan Zulfikar didominasi dengan warna cerah. Sehingga mampu memberi daya tarik tersendiri bagi anak-anak.

Salah satunya Winda (7), yang terpikat dengan rumah Barbie berwarna biru, merah, dan hijau. “Ma, beli yang ini ya,” rengek Winda kepada ibunya. Tak ingin merusak kebahagiaan sang anak, ibu tadi pun menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribu kepada Zulfikar. Rumah Barbie kemudian dimasukkan ke dalam kantungan plastik lalu diserahkan kepada Winda yang menyambutnya dengan suka cita.

“Ya, namanya juga untuk anak. Apalagi harganya cukup murah. Daripada membeli di toko yang sudah pasti jauh lebih mahal tapi kualitasnya sama,” beber sang ibu yang tak mau menyebutkan namanya.

Seperti dituturkan Herdi, Sales Marketing Barbie Shop, rumah Barbie tadi merupakan produksi pertama. Berawal dari sisa bahan pembuat sendal, Zulfikar yang juga seorang pengacara di Jakarta ini mencoba berkreasi. Limbah tadi kemudian dipotong-potong mengikuti pola yang dibuat. Jadilah rumah Barbie yang memancarkan kecerahan.

“Sejak lajang abang itu (Zulfikar) sudah ke Jakarta dan banyak belajar di sana. Setahun lalu dia pulang dan melihat banyak sisa pembuatan sendal terbuang dan coba dimanfaatkannya. Ya, jadilah seperti sekarang ini tapi tidak lagi menggunakan sisa. Bahan sudah kita pesan,” jelas Herdi.

Seiring dengan antusias masyarakat, Zulfikar kemudian mendirikan Barbie Shop untuk memajangkan karya-karyanya. Setelah rumah Barbie, materi yang ada pun diolah menjadi mainan Barbie lainnya.

Seperti lemari pakaian, sofa, tempat tidur, sofa, dan celengan. Tempat tidur sendiri dibuat dalam tiga jenis yaitu bad set, tempat tidur tingkat, dan dengan kelambu. Untuk celengan, Zulfikar membuat dalam bentuk-bentuk yang menarik. Seperti mobil-mobilan. Dengan demikian, sembari bermain, anak diajarkan pentingnya untuk menabung.

Seperti tujuan di awal, Zulfikar pun menawarkan karya-karyanya dengan harga terjangkau. Rumah Barbie sendiri dijual Rp20 ribu, lemari baju dijual Rp40 ribu, lemari hias dan sofa dijual Rp35 ribu, celengan dan baju Barbie dijual Rp5 ribu. Untuk tempat tidur bad set dijual Rp60 ribu sedangkan yang dua tingkat dan menggunakan kelambu dijual Rp50 ribu.

Untuk memenuhi pesanan, Zulfikar pun menggelar pelatihan bagi remaja Kota Medan dengan keterampilan yang dimiliki. Saat ini Barbie Shop sudah mengerjakan tujuh karyawan. Pelatihan juga digelar di sekolah-sekolah untuk memberi pelajaran kemandirian bagi siswa dengan mengasah kemampuan yang ada. Khususnya dalam kerajinan tangan. *)
sumber: http://www.hariansumutpos.com

This entry was posted in Berita, Informasi Untuk Kab. Karo. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *