DANAU TOBA, ‘BIDADARI’ YANG TERTIDUR


MEDAN – Keindahan alam Danau Toba sudah tidak lagi diragukan. Danau yang dikabarkan oleh para ilmuwan sebagai sebuah kawah besar Gunung Toba ini menyimpan potensi alam luar biasa.

Airnya menghidupi ribuan masyarakat di sekitarnya, menjadi pemasok utama pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Asahan I, II dan bahkan kelak Asahan III.

“Aliran Danau Toba mengaliri bendungan Sigura-gura yang menjadi pusat PLTA Asahan II, dan Asahan I,” terang Effendi Sirait, Ketua Otorita Asahan kepada Waspada Online.

Danau terluas dan tertinggi di dunia itu, menjadi muara 142 sungai dari Pulau Sumatera dan 63 sungai dari Pulau Samosir. Satu-satunya saluran air keluar adalah melalui Sei Asahan.

Potensi danau yang terbentuk dari letusan Gunung Purbakala Toba, memang amat besar. Danau Toba merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar dan bahkan menjadi sumber inspirasi bagi para komponis dalam menggubah lagu tentang keindahannya.

“Banyak orang menggantungkan hidup dari potensinya, sehingga danau ini dapat dikatakan telah menjadi ‘bank’ orang Batak,” ujar Kabag Humas Pemerintah Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Naibaho.

Hal yang sama diungkapkan oleh Anggota DPD RI dari Sumatera Utara, Parlindungan Purba. “Potensinya amat besar, namun butuh pembinaan intens,” terang Anggota DPD RI dari Sumut, Parlindungan Purba.

Berdasarkan pengamatan tim liputan Waspada Online, kawasan sekitar Danau Toba memang masih banyak yang perlu diperbaiki. “Wisata air, bisa menjadi andalan kabupaten dan kota yang ada di sekitar Danau Toba,” terang  Effendi Sirait.

Untuk itu, lanjutnya, setiap kabupaten dan kota harus mampu bersinergy untuk mengembangkan potensi daerahnya. “Keunikan akan membuat sebuah objek wisata menjadi terkenal dan dikenang,” terang Parlindungan.

Pulau Samosir misalnya, menyimpan potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata alam, agro wisata dan wisata seni budaya. Ia mengungkapkan, alam yang indah dan kekayaan budaya yang dimiliki kabupaten Samosir, cukup menjanjikan untuk menawarkan berbagai daya tarik wisata yang layak dikembangkan menjadi obyek wisata. Karena, sebagian besar kabupaten ini dikelilingi perairan Danau Toba.

“Banyak benda budaya dan situs sejarah serta atraksi seni yang unik, turun temurun tersimpan di daerah ini,” katanya.

“Daya tarik wisata bersifat tangible (berwujud) seperti, museum dan situs serta panorama alam, dengan mudah dapat dijumpai. Juga, yang sifatnya intangible (tidak berwujud) seperti sejarah dan budaya masyarakat tradisional serta event budaya yang menjadi peristiwa pariwisata,” lanjutnya.

Hal paling menarik, lanjutnya lagi, legenda terjadinya Danau Toba. Juga, keberadaan Pusuk Buhit, sebagai tempat asal leluhur Si Raja Batak. Selain itu, peristiwa geografis/geologis terjadinya danau yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini.

Perbaikan infrastruktur harus segera dilakukan Infrastruktur, menjadi hal penting bagi pengembangan sebuah daerah wisata. Berdasarkan pengamatan Waspada Online,  jalan dari Medan menuju Parapat memang cukup memadai. Namun waktu tempuh yang cukup lama membuat wisatawan enggan memilih Danau Toba menjadi tujuan wisata.

“Jika pemerintah provinisi mau membangun  fasilitas yang mempercepat jarak ke Danau Toba, pengembangan wisata Danau Toba akan lebih besar kemungkinan berkembangnya, “ terang  Parlindungan.

Infrastuktur  di daerah-daerah lain di sekitar Danau Toba juga harus mendapat perhatian. Pengamatan Waspada Online di lapangan, sedikitnya ada lima jembatan rusak di Pangaruran, belum lagi angkutan kota yang amat sangat jarang melintasi jalan menuju objek wisata. Padahal pantai Pangaruran amatlah indah. Pasir putih dan ombak danau ini begitu memanggil kami untuk berlama-lama menikmati keindahan alam.

Jalan menuju Danau Toba dari Kabupaten Karo juga perlu diperbaiki segera. Jalan mulus hanya bisa dinikmati mulai dari Medan hingga Kabanjahe . Setelahnya, tikungan tajam dan jalan berlubang sudah menjadi makanan pengguna jalan.

Hal ini memang diakui oleh Parlindungan Purba. “Jalan di Tiga Panah sudah diperbaiki, namun masih belum maksimal. Karenanya butuh kerja sama semua pihak untuk membuat jalan dari Kabanjahe ke Parapat menjadi layak dilintasi,” terangnya.

Perlintasan dari Medan-Berastagi- Kabanjahe – Parapat adalah jalan objek wisata yang menarik. Dengan infrastruktur yang baik, daerah wisata ini akan lebih berkembang.

Butuh penyatuan visi
Melihat potensi besar yang dimiliki Danau Toba, yang dibutuhkan sekarang adalah penyamaan visi dan keinginan bekerja sama antar semua kabupaten dan kota yang ada di sekitar Danau Toba.

Seharusnya, Kabupaten Samosir, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Dairi dan Pak-pak Bharat merumuskan rencana pembangunan terpadu dan komprehensif.

“Inilah menjadi titik lemah. Pemda memiliki rencana pembangunan masing-masing. Sulit mewujudkan perencanaan terpadu karena masing-masing mempertahankan ego daerahnya,” ujar Parlindungan.

Jika semua bekerja sama, lanjut Parlindungan, bukan tidak mungkin Danau Toba menjadi objek wisata utama Pulau Sumatera.
sumber: http://waspada.co.id

This entry was posted in Informasi Untuk Kab. Karo, Jelajah Objek Wisata Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to DANAU TOBA, ‘BIDADARI’ YANG TERTIDUR

  1. It’s really a cool and helpful piece of info. I’m happy that you just shared this useful info with us. Please stay us up to date like this. Thank you for sharing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *