MENANTANG JERAM, MENIKMATI PANORAMA

Senin, 12 Januari 2009 | 10:08:39
by. Budi Suryanto

Siapkah Anda bertualang di arus yang mengamuk? Ayo ikut arung jeram. Kebanyakan orang mungkin beranggapan kegiatan ini hanya untuk orang-orang bernyali lebih. Sebenarnya tidak demikian. Sebab, olah raga ini juga mengandalkan teknik agar arus sungai yang liar tidak melemparkan tubuh Anda dari perahu.

Sekarang bahkan sudah banyak yang menganggap arung jeram sebagai kegiatan wisata. Sejumlah paket disediakan oleh pemandu-pemandu handal dan terlatih. Mereka siap membawa Anda bertualang menyusuri sungai dengan pemandangan-pemandangan menakjubkan di sisi sungai.

Saya ingin bagi pengalaman sedikit tentang kesempatan pertama saya ikut arung jeram di Sungai Wampu, satu dari rute jeram yang cukup diminati sebagai objek pelancongan.

Waktu pada saat itu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Masih pagi dan cuaca masih dingin. Kami bersiap berangkat. Peralatan sudah disiapkan. Dua unit perahu karet, 14 set dayung, helm dan life jacket.

Untuk barang-barang pribadi, cukup baju kaos dengan celana pendek, ditambah baju ganti untuk pulang nanti. Sedangkan alas kaki biasa dipakai sandal rafting, sejenis sandal karet dengan tali-tali berbentuk pita. Sandal jenis ini banyak dijual di toko-toko outdoor di Medan.

Tim bergerak ke arah Marike, 55 km dari Medan atau 30 km sebelum Bukit Lawang, Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Desa terakhir yang kami lewati sebelum tiba di sungai adalah Cangkolan, Kecamatan Salapian, Langkat. Desa tersebut didiami kira-kira 25 kepala keluarga dan sebagian besar merupakan suku Karo. Mereka adalah petani ladang dan kebun.

Begitu turun dari mobil, 2 unit sepeda motor menghampiri. Tanpa diperintah, pengendara mengangkat lipatan perahu kami dan meletakkannya di atas jok belakang motornya. Dengan motor ini, mereka mengantarkan perahu sampai ke titik start pengarungan yang jaraknya kira-kira 1,5 km. Untuk meneruskan perjalanan dengan mobil memang agak sulit, kecuali mobil jip yang dilengkapi penggerak roda empat.

Dari jasa pengendara sepeda motor itu, kita harus merogoh kocek Rp 20 ribu per perahu.

Kami sendiri harus jalan kaki menuju sungai. Sekitar 300-an meter dari desa Cangkolan, kami jumpai jembatan gantung yang lebarnya kira-kira satu meter dan panjang 60 meter dengan aliran sungai di bawahnya sedalam 40 meteran.

Tidak sampai setengah jam, kami sudah tiba di pinggir sungai. Beberapa orang sibuk memompa perahu. Sudah menjadi tradisi para pengarung, sebelum turun ke sungai, setiap anggota harus kebagian memompa perahu walaupun hanya beberapa kali genjotan. Ini sekaligus pemanasan sebelum ngarung.

Hanya beberapa menit, semua perahu sudah menggelembung terisi angin. Tekanan angin harus pas, tidak boleh terlalu keras, karena bisa menyebabkan perahu pecah kalau terlipat di dalam jeram.

Sebelum berangkat, Dejo, seorang rafter kawakan yang menjadi koordinator pengarungan meminta kami berkumpul mengelilinginya. Dengan sedikit praktik, ia menjelaskan cara-cara berarung jeram, mulai dari memegang dayung yang benar, cara berenang pada sungai yang berjeram, serta perintah-perintah standar yang berlaku dalam arung jeram seperti “dayung maju”, “dayung kiri/kanan”, “dayung mundur” atau “backpaddle”. Prosedur keselamatan harus dipatuhi setiap anggota. Yang terakhir, kami berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan.

Kami berjumlah 14 orang, dan dibagi dalam dua perahu. Tim I dibawa Bang Awe sebagai kapten, sedangkan Tim II dikomandoi Dejo. Setelah segalanya siap, kami pun meluncur.

Tak lama setelah meluncur, jeram (arus) pertama sudah di depan mata. Para pemandu kami menjelaskan, jeram ini ber-grade 2. Riakan dan gelombang yang ditimbulkan tidak terlalu besar. Perahu di depan tanpa kesulitan berhasil melewatinya.

Dejo, kapten perahu yang saya tumpangi tiba-tiba berteriak memberi aba-aba “dayung maju”. Kami serentak mendayung secara bersama-sama. Haluan perahu sudah memasuki jeram, perahu berguncang. Dejo menarik sedikit buritan ke kiri untuk meluruskan posisi agar sejajar masuk jeram. Kami pun menyusul perahu pertama yang duluan melewati jeram.

Jeram kedua tidak terlalu besar, tapi lumayan panjang. Ada sekitar seratusan meter jeram-jeram kecil terbentuk. Cukup asyik melewati jeram ini. Seperti menaiki sapi pada olah raga rodeo di Texas. Anggota tim kedua perahu berteriak-teriak, dan suasana riuh menyenangkan. Kami basah kuyup.

Selanjutnya adalah panorama-panorama yang tak pernah say saksikan sebelumnya. Ketika arus tenang, tiba-tiba kami memasuki sebuah kawasan yang mirip canyon. Kanan kiri sungai dipagari dinding batu dengan ketinggian kira-kira 40 meter. Dinding-dinding itu selalu basah dan diselimuti lumut. Kanopi pohon pada bagian atas tebing hampir menutupi liukan sungai di bawahnya. Hanya ada sedikit berkas sinar matahari yang menerobos masuk dari balik rimbunan daun.

Beberapa sungai di Sumatera mempunyai karakter yang sama, yakni berdinding batu dengan hutan hujan yang masih perawan di sepanjang alirannya. Kondisi ini juga dapat dijumpai di Sungai Asahan, Sungai Batangtoru, Sungai Alas, Sungai Tripa, dan sungai yang kami arungi sekarang ini, yaitu Sungai Wampu.

Sungai Wampu membelah dua kabupaten. Bagian hulu masuk pada wilayah Kabupaten Tanah Karo. Mereka menyebutnya Lau Biang (anjing). Sedangkan bagian hilirnya, yaitu Sungai Wampu, masuk wilayah Kabupaten Langkat. Sungai ini pada akhirnya berakhir di Selat Malaka.

Jeram-jeram Sungai Wampu mempunyai tingkat kesulitan rata-rata pada grade 2 hingga 3 plus dengan gradien sungai rata-rata 12 m/km–setiap satu kilometer panjang sungai, penurunan ketinggiannya adalah 12 meter. Karakter ini membuat Wampu sangat cocok dijadikan tempat wisata arung jeram. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh dari daerah wisata Bukit Lawang. Beberapa perusahaan operator arung jeram di Medan seperti Rapid Plus dan Bina Alam Mandiri sudah sejak lama “menjual” paket wisata air ini ke wisatawan lokal maupun mancanegara.

Puas menikmati grand canyon-nya Wampu, kami berhenti sebentar di air panas. Jaraknya berkisar 15 menit dari start. Air panas ini memang tidak terlalu istimewa, hanya sebentuk kolam kecil dengan gelembung-gelembung uap panas yang keluar dari dalam bumi. Tetapi setiap pengarung selalu mengambil kesempatan menyinggahinya. Paling tidak sekadar melihat atau cuci-cuci kaki dalam air belerang.

Selesai dengan air panas, sang kapten memberi perintah naik perahu kembali dan mendayung pelan. Dejo hanya menggerakkan sedikit dayungnya untuk mengarahkan perahu tetap lurus mengikuti arus.

“Siap-siap!” teriaknya setelah agak lama berselang. Baru saja kami melewati tikungan, sekitar 30 meter di depan sudah menghadang jeram besar. Inilah jeram terbesar di rute Kaperas-Pamaduren, rute yang biasa dijual operator arung jeram. Penduduk lokal menamainya Buluh Nipis. Grade-nya bisa mencapai 3 plus dan tingginya mencapai 1,5 meter. Tetapi kalau musim hujan, grade-nya turun menjadi grade 2. Tingginya air menyebabkan jeram menjadi “hilang”.

Kami beruntung karena hujan malam sebelumnya tidak membuat air sungai naik. Perahu yang saya tumpangi diberi kesempatan untuk menjadi yang pertama. Kapten tetap memerintahkan mendayung pelan. Ia mengarahkan perahu tetap lurus ketika memasuki lembah jeram.

“Power!” teriak Dejo dari belakang. Kontan kami serentak mendayung kuat ke depan. Perahu sontak terdorong maju. Dayungan yang kuat sepertinya tidak seimbang pada kedua sisi perahu. Ini membuat perahu agak miring. Dejo berusaha menarik buritan ke kanan. Usahanya tak sia-sia, karena perahu sedikit bergerak lurus searah jeram. Paling tidak, ini bisa menjaga perahu tidak terbalik.

Begitu masuk jeram, serentak kami berteriak seru. Di sini adalah saat-saat paling menegangkan di mana perahu mencapai kecepatan tertingginya. Kecepatan menurun drastis ketika mencapai puncak jeram. Tabrakan haluan dengan puncak jeram ini membuat air banyak masuk ke dalam perahu.

Terasa tubuh saya terbanting ke arah tabung tengah. Perahu terus melaju ke depan. Tantangan belum habis. Sekitar 5 meter di depan, halangan (strainner) berupa balok kayu tampak menghadang.

Perintah “tarik kanan!” dari sang kapten tampaknya tidak efektif untuk menghindarkan kami dari tabrakan. Tak ayal, perahu langsung menabrak balok kayu yang tertancap tegak di tengah jeram. Untungnya, badan perahu tidak tertahan di balok. Arus dari kiri membuat perahu berputar ke kanan. Dengan sedikit tarikan, akhirnya perahu terbebas dari strainner. Dan ini berarti kami sukses menaklukkan Buluh Nipis.

Jeram yang kami lewati selanjutnya tidak terlalu besar, tapi sangat menyenangkan. Pemandangan alam di sepanjang aliran sungai lebih mudah untuk dinikmati. Air terjun Kinangkong yang bertingkat-tingkat menambah keunikan Sungai Wampu. Sayang kalau tidak dipotret.

Arloji menunjukkan pukul 13.15 WIB saat kami mendarat di Pamaduren, finish-nya petualangan sungai ini. Bang Andi, driver merangkap koki, sudah menyiapkan makan siang. Hidangan nasi dengan lauk belut sambal jadi menu utama, ditambah hidangan pencuci mulut berupa buah-buahan segar. Mmmm!

Terdapat (2) Tanggapan

dian | 06/05/09. 14:04:16

saya dan teman2 berencana untuk mencoba arung jeram di bukit lawang. boleh minta no contact yang bisa kita hubungi? thanks!

anita | 28/01/09. 22:12:01

keren banget …..
pengen bisa merasakan hal yang serupa.kira2 aman nggak ya dilakukan oleh orang yg belum berpengalaman?
saya blm pernah ikut rafting sebelumnya.

This entry was posted in Jelajah Objek Wisata Karo. Bookmark the permalink.

1 Response to MENANTANG JERAM, MENIKMATI PANORAMA

  1. Pingback: opioid medicine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *