PENDETA ATAU SUPIR SINABUNG JAYA

Alkisah pada akhir zaman, ada seorang Pendeta dan seorang supir bus Sinabung Jaya yang sedang menghadap Sang Tuhan untuk meminta jatah mereka masing-masing di surga (disurga terbagi 3 klas: ekonomi, wisata, & vip)…

Dan setelah melakukan rapat dengan dewan senat para malaikat pun memberikan mereka sebuah amplop yang berisikan sebuah kertas yang bertuliskan kelas mereka masing-masing di surga. Setelah membuka amplopnya sang pendeta merasa heran karena ia ditempatkan di kelas ekonomi, sementara si supir bus mendapat kelas yang paling tinggi yaitu kelas VIP. Merasa diperlakukan tidak adil sang Pendeta tersebut pun langsung mendatangi Tuhan untuk mengklarifikasikan hal ini………..

Pendeta : Oh Tuhan teganya Engkau menempatkan hambaMu ini di tempat yang seperti itu, sementara Engkau menempatkan si supir itu ditempat tertinggi…….

Tuhan : Hai… engkau pendeta trimalah tempat mu, karena itu adalah tempat yang tepat untuk mu……merasa tidak terima, sang pendeta itupun lalu bertanya lagi

Pendeta : apa salah ku ya Tuhan ???, padahal aku telah banyak berkhotbah dan menyebarkan firmanmu

Tuhan : Hai… engkau pendeta, engkau harus tahu bahwa pada saat engkau berkotbah engkau malah membuat semakin banyak orang tertidur saat mendengarkan firman-KU alias waktu kamu berkotbah. Sedangkan dia (sang supir bus) saat menjalankan tugasnya sebagai supir bus telah banyak membuat orang berdoa dan berseru berdoa kepada-KU didalam perjalanan medan-kabanjahe……

by : Anor Priatno
in : Entrimedia

This entry was posted in Ragam Cerita Operasional. Bookmark the permalink.

2 Responses to PENDETA ATAU SUPIR SINABUNG JAYA

  1. 3n says:

    ada2 aja.
    betul kah seperti itu?

  2. tiganna says:

    itu cerita lucu…
    tapi cerita sedih dialami ibu saya br karosekali.
    waktu itu thn 90an, ibu sy sring bilak-balik b.tagi ke besitang atau kwalasimpang dgn s.jaya. suatu waktu ibu sy stop bus s.jay di depan rumah. waktu itu ibu saya bawa obat-obatan pertanian. karena bus kejar-kejaran, barang bawaan ibu saya dilempar saja keatas atap dan menyuruh ibu saya buru-buru naik dgn setengah membentak karena takut “dipotong” oleh bus dibelakangnya.
    sesampainya di p.baris ibu sy minta spy brangnya diturunkan. dengan kasar si kenek mengambil barang ibu saya dengan melemparkannya. ternyata sebagian besar obat-obatan tadi telah tiada. dengan nada tdk sopan sikenek memberi ibu saya beberapa ribu rupiah kemudian berteriak “majuuuu….” dan ibu saya ditinggal begitu saja. ibu saya sedih, menangis krn tdk dihargai. dan sayapun hanya bisa menahan sedih, oh tuhan bapakku telah tiada, seharusnya aku bisa memberi sedikit perlindungan buat ibuku, tapi aku tak mampu.
    saat itu siapa y tdk tahu siapa sinabung jaya. saya mencoba menghibur ibu saya siber karosekali yang berjuang menafkahi keluarganya seorang diri sampai ke rantau orang. semoga ibu saya diberi kemuliaan di di dunia dan alhamdulillah ibu saya walaupun sudah renta masih kuat bolak- balik medan jakarta untuk mengunjungi kempuna…
    sibar em, mejuah-juah…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *